1. Data Publikasi
Senin,
23 Maret 2015 | 12:46 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Pembangunan
pembangkit listrik ke depan didorong di luar Jawa, di daerah terpencil, dan di
wilayah yang banyak sumber energinya. Jawa, selain konsumsi listrik penduduknya
sudah terbilang baik, daya dukung lingkungannya tergolong rendah.
“Dewan Energi Nasional pernah menyatakan ke
depan pembangkit listrik harus dibangun di luar Jawa, di daerah yang
tertinggal, dan di tempat banyak energi,” kata Ketua Council International of
Large Electric System (CIRGE) Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, dalam diskusi Minggu
(22/3/2015).
Menurut Herman, daya dukung lingkungan di Jawa
sudah rendah. Mantan direktur transmisi PT PLN (Persero) itu mengakui, mencari
lahan yang akan dipertuntukkan menara tapak saja sudah sangat susah. Dia
bilang, kebutuhan listrik ini tidak terlepas dari kebutuhan industri, di luar
konsumsi rumah tangga. Atas dasar itu, ke depan, dia bilang, seharusnya
pembangunan pabrik-pabrik besar didorong di luar Jawa. Jawa ke depan idealnya
menjadi kota jasa, kota pendidikan, dan kota teknologi informasi.
“Pemerintah seharusnya menghentikan pembangunan
pabrik di Jawa,” kata Herman.
Dengan begitu, permintaan listrik di Jawa bisa
tidak melonjak. Sementara itu, dilihat dari sisi konsumsi, saat ini penduduk di
Jawa ada sekitar 60 persen dari populasi, dengan ketersediaan energi 81
persen. Artinya, sudah penduduk Jawa sudah lebih cukup listrik daripada
di luar Jawa, dengan konsumsi 1.200 KWh per kapita.
Bandingkan dengan 40 persen penduduk Indonesia
yang tersebar di luar Jawa, ketersediaan energi listrik baru 19 persen, atau
konsumsinya hanya sekitar 300 KWh per kapita. “Jadi harus bangun lebih banyak
di luar Jawa,” kata mantan anggota DEN itu.
Menurut perhitungan Herman, kebutuhan listrik
hingga 2019 tidak akan mencapai 35.000 megawatt (MW). Sebanyak 20 juta rumah
tangga yang belum teraliri listrik paling tidak hanya membutuhkan 4.000 MW,
ditambah kebutuhan di luar industri paling banter kebutuhan sampai lima tahun
mendatang sebanyak 15.000 MW.
“20.000 MW ini untuk apa? Untuk industri.
Industri yang akan mengkonsumsi ini industri apa? Ini yang harus dibicarakan
pemerintah. Kalau pabrik, pabrik apa yang harus ada. Langsung ditentukan di
luar Jawa, karena tanah murah, energi banyak. Kalau mau bangun 20.000 MW di
Jawa, tanah sudah sempit. Yang namanya PLTU Jateng saja 3 tahun,” jelas
Herman.
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti
Nurbaya Bakar membenarkan, sumber energi untuk pembangkit lebih banyak terdapat
di luar Jawa. Adapun pembangkit yang ada di Jawa sebagian besar memanfaatkan
waduk dan bendung.
“Betul, seharusnya pembangkit diperbanyak di
luar Jawa,” kata dia.
Apalagi, pemerintah memiliki agenda pembangunan
14 kawasan ekonomi khusus (KEK) di luar Jawa, 1 di Jawa, 14 kawasan industri
serta permukiman.

“Dewan Energi Nasional pernah menyatakan ke depan pembangkit listrik harus dibangun di luar Jawa, di daerah yang tertinggal, dan di tempat banyak energi,” kata Ketua Council International of Large Electric System (CIRGE) Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, dalam diskusi Minggu (22/3/2015).
Menurut Herman, daya dukung lingkungan di Jawa sudah rendah. Mantan direktur transmisi PT PLN (Persero) itu mengakui, mencari lahan yang akan dipertuntukkan menara tapak saja sudah sangat susah. Dia bilang, kebutuhan listrik ini tidak terlepas dari kebutuhan industri, di luar konsumsi rumah tangga. Atas dasar itu, ke depan, dia bilang, seharusnya pembangunan pabrik-pabrik besar didorong di luar Jawa. Jawa ke depan idealnya menjadi kota jasa, kota pendidikan, dan kota teknologi informasi.
“Pemerintah seharusnya menghentikan pembangunan pabrik di Jawa,” kata Herman.
Dengan begitu, permintaan listrik di Jawa bisa tidak melonjak. Sementara itu, dilihat dari sisi konsumsi, saat ini penduduk di Jawa ada sekitar 60 persen dari populasi, dengan ketersediaan energi 81 persen. Artinya, sudah penduduk Jawa sudah lebih cukup listrik daripada di luar Jawa, dengan konsumsi 1.200 KWh per kapita.
Bandingkan dengan 40 persen penduduk Indonesia yang tersebar di luar Jawa, ketersediaan energi listrik baru 19 persen, atau konsumsinya hanya sekitar 300 KWh per kapita. “Jadi harus bangun lebih banyak di luar Jawa,” kata mantan anggota DEN itu.
Menurut perhitungan Herman, kebutuhan listrik hingga 2019 tidak akan mencapai 35.000 megawatt (MW). Sebanyak 20 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik paling tidak hanya membutuhkan 4.000 MW, ditambah kebutuhan di luar industri paling banter kebutuhan sampai lima tahun mendatang sebanyak 15.000 MW.
“20.000 MW ini untuk apa? Untuk industri. Industri yang akan mengkonsumsi ini industri apa? Ini yang harus dibicarakan pemerintah. Kalau pabrik, pabrik apa yang harus ada. Langsung ditentukan di luar Jawa, karena tanah murah, energi banyak. Kalau mau bangun 20.000 MW di Jawa, tanah sudah sempit. Yang namanya PLTU Jateng saja 3 tahun,” jelas Herman.
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya Bakar membenarkan, sumber energi untuk pembangkit lebih banyak terdapat di luar Jawa. Adapun pembangkit yang ada di Jawa sebagian besar memanfaatkan waduk dan bendung.
“Betul, seharusnya pembangkit diperbanyak di luar Jawa,” kata dia.
Apalagi, pemerintah memiliki agenda pembangunan 14 kawasan ekonomi khusus (KEK) di luar Jawa, 1 di Jawa, 14 kawasan industri serta permukiman.
Penulis
|
: Estu Suryowati
|
Editor
|
: Erlangga Djumena
|
2. Judul Artikel
"Pemerintah
Seharusnya Menghentikan Pembangunan Pabrik Di Jawa"
3. Penulis Artikel
Estu Suryowati, Editor : Erlangga Djumena
4. Tanggal/No.Penerbitan/Laman
Senin, 13 April 2015/9/
5. Ragam Bahasa
Ekonomi
6.
Ringkasan/Sinopsis
Menurut
Herman, daya dukung lingkungan di Jawa sudah rendah. Mantan direktur transmisi
PT PLN (Persero) itu mengakui, mencari lahan yang akan dipertuntukkan menara
tapak saja sudah sangat susah. Bandingkan dengan 40 persen penduduk Indonesia
yang tersebar di luar Jawa, ketersediaan energi listrik baru 19 persen, atau
konsumsinya hanya sekitar 300 KWh per kapita. “Jadi harus bangun lebih banyak
di luar Jawa,” kata mantan anggota DEN itu.
7.
Keunggulan
Pembangunan
pembangkit listrik ke depan didorong di luar Jawa, di daerah terpencil, dan di
wilayah yang banyak sumber energinya.
8.
Kelemahan
Masih adanya pembangunan pabrik-pabrik di pulau Jawa
9. Pendapat
Akhir/Saran
Sebagai negara yang
ingin maju, langkah ini merupakan terobosan pemerintah yang sangat bagus,
dimana ini merupakan bentuk program pemerintah sebagai masyarakat turut
mendukung program pemerintah ini. Saran saya untuk pemerintah perbanyak lah
membangun tenaga listrik karna itu sangat dibutuhkan ditempat-tempat terpencil

0 komentar:
Posting Komentar